Sekarang Arya baru mengerti yang namanya “ketiadaan” ternyata adalah salah satu bentuk “ada”. Setelah hampir 6 tahun Echa telah meninggalkan Arya karena telah dipanggil Allah terlebih dahulu, ternyata merupakan bentuk “kehadiran” khusus dan tersendiri. Banyak kejadian, proses, renungan, kegelisahan, tapi juga inisiatif-inisiatif dalam pikiran, hati dan sikap Arya yang mungkin terjadi karena Echa tidak lagi berada disisi Arya saat ini. Seandainya Echa belum meninggal, kehadiran itu semua mungkin terpendam. Jadi “ketiadaan” Echa adalah “ada” tersendiri bagi Arya yang mencintai Echa. Ada dalam arti yang lebih fungsional dan merangsang menghikmahkan.

Jangan kurang ajar kepada emes-mu, nanti kalau dia mangkel, jantungan kemudian meninggal, kamu baru paham sesungguhnya dia “ada” didalam cinta, jiwa dan nuranimu. Kalau pada suatu hari ibumu dipanggil Tuhan, kamu akan bertemu dengan berbagai penyesalan kenapa sewaktu ibu ada, kamu tidak memaksimalkan menghormati “ada”-nya. Sekarang beliau “tidak ada”, kamu merasakan justru beliau “sangat ada” didalam batinmu “dan” ada beliau itu abadi, tak pernah mati dalam batin dan cinta kasihmu.

Demikian juga “ada”-nya sahabat-sahabat, handai tolan, tetangga, ayam, matahari, meja, kursi, pepohonan, atau apa saja yang menjadi bagian dari kesadaran hidupmu. Jangan pernah meremehkan apapun. Pantas guru ngaji Arya berkata pada Arya yang tiap hari mendoakan Echa, “ingatlah setiap saat bahwa kamu punya dua tangan dan dua kaki dengan cara menggunakannya sebanyak mungkin untuk perbuatan baik. Begitu kamu nganggur atau mempergunakan tangan dan kakimu untuk perbuatan yang tidak baik, sesungguhnya dalam pikiran bawah sadarmu  kamu bahwa tangan dan kakimu itu tidak ada. Kalau kamu frustasi, kamu menghina Tuhan dan mempermalukan dirimu sendiri dihadapan katak-katak dan kadal-kadal. Bagaimana mungkin kamu frustasi, sedangkan katak dan bisa berpikir dan kamu bisa, kadal tak bisa sholat dan kamu bisa. Kalau kamu frustasi, kamu telah merendahkan konsepsi Tuhan tentang manusia. Setiap jari-jarimu yang diberi kuku untuk tahanan sehingga kamu bisa kuat, terampil mengerjakan banyak hal dan bisa desainweb juga bisa menulis di laptop kesayanganmu yang monitornya sudah rusak bergaris itu. Bola matamu dilindungi bemper berupa helai-helai rambut yang melindungimu dari debu. Mulutmu diciptakan tidak dengan tanpa gigi, hidungmu tidak diletakkan didekat pantat. Jantung dan ususmu dibikin bisa bekerja sendiri tanpa perintah darimu. Kamu tinggal hidup dan makan, kemudian melaksanakan titipan dengan baik. Kalau kamu frustasi, aku akan hadapkan kamu ke meja pengadilan kadal-kadal!!!

hakikat “tidak ada” itu adalah “ada”. Kita bertemu dalam doa, dalam alam kesejatian di satu titik dimensi ruang rindu untuk saling membunuh rasa rindu itu sendiri, dan tidak akan ada siksa rindu lagi, karena kita telah satu (5381)

Setiap kalimat yang pernah diucapkan guru ngajinya itu diingat kembali oleh Arya secara lebih jernih, justru ketika Echa “tidak ada” secara fisik menemani Arya. Dengan  “tidak ada”-nya Echa, Arya menjadi secara alami berusaha merekonstruksikan ke-“ada”-an Echa dalam kesadaran mereka.

Pertama-tama yang mungkin terbayang dalam pikiran Arya adalah adalah wajah Echa serta sosok tubuhya. Dan tentu saja yang berhubungan dengan paras Echa maupun bentuk tubuhnya, yang beberapa teman Arya mengatakan tidak cukup estetis, cantik  atau seksi untuk dikenang. Lantas bagi Arya, Echa adalah perempuan tercantik karena Arya sangat mencintainya meskipun sekarang secara fisik “tidak ada”, dan tentu saja dalam rekonstruksi alam bawah sadar pikiran Arya adalah perilaku-perilaku Echa. Perilaku Echa mungkin agak enak untuk di ingat-ingat bagi Arya dan sahabat-sahabatnya, perilaku yang kelihatannya biasa-biasa saja, tapi ternyata lain dari yang lain. Terkadang terasa aneh dan bikin Arya tersenyum bahkan menangis sejadi-jadinya. Tapi kalau dipikir-pikir, sebenarnya perilaku semacam itu wajar saja dan jujur terhadap isi nurani.

Echa itu manusia ruang”, Arya seperti orang yang sakit schizoprenia berkata pada Tony sahabatnya yang sedang bercengkarama di warung kopi pada malam hari menjelang subuh.

kok manusia ruang..???”, Tony bertanya.

Dia bagiku adalah ruang, bukan perabot. Bukan manusia perabot, hidup Echa adalah ruang yang terbuka bagi perabot yang sekarang usang sepertiku. Dia menampung, menyedia udara dan mempersilahkan aku bernafas didalamnya.” Dia berkata dengan senyum meskipun hati Arya  sedang menangis merindukannya.

mesti aneh-aneh perumpamaanmu, cuk!” celetuk Tony

Atau Echa adalah udara itu sendiri. Udara selalu toleran, dia selalu menyisih apabila ada perabot yang membutuhkan tempat. Dunia ini boleh dijejali perabot, tapi udara selalu solider, sebab ruang untuk udara tak terbatas volumenya, bahkan didalam perabot sendiri pun ada udara. Kalau ada polusi, kalau ada udara yang dikotori, yang salah bukan udaranya”. Arya menjelaskannya lagi seolah dia sedang berfilsafat dalam diamnya tadi.

“tambah edan cuk, di ombe kopine sik ndak edan mblo!!!”, jawab Tony yang tidak tega menemani Arya malam itu.

Tony sebenarnya tadi sedang asyik main game di facebook tapi kemudian diculik oleh Arya dan dibawa kewarung kopi. Tony tau kalau Arya sedang butuh teman, meskipun hanya menemaninya dalam diam. Sahabat yang sangat mengerti dan mendamaikan Arya, sejak lahir mereka dilahirkan di rumah sakit yang sama, waktu kecil pindah ke Surabaya di waktu yang sama, dari SD sampai SMA ditempat yang sama, hanya saja tidak kuliah bersama karena Tony tidak ingin melanjutkan kuliah dan harus meneruskan usaha service elektro bapaknya karena tidak lama kami lulus SMA bapak Tony meninggal dunia.

Apa Echa sama sekali bukan perabot? Apa dia tidak membutuhkan tempat? Tentu saja dia juga perabot, tetapi dalam dirinya, dia menyediakan ruang yang seolah-olah tak terbatas bagi orang lain. Ruang untuk menampung kesedihanku, untuk menjadi keranjang sampah, menjadi cangkir bagi air mataku, supaya air mata dan cintaku dalam hidup ini tidak sia-sia”, tambah Arya menjelaskan hasil perenungannya.

“kok hebat sekali Echa!” Tony nyeletuk.

Tony  mengatakan Echa hebat. karena ketika Arya membicarakan Echa, dia tiba-tiba ingat pada bapaknya. Tony berpikir bahwa yang dibicarakan Arya mengenai Echa Udara, Ruang dan perabot ini adalah hal sama yang dirasakan Tony mengenai bapaknya.

“Bukan soal hebat atau tidak hebat”, jawab Arya sambil menuangkan kopi dalam lepeknya… Itu hanya soal kesediaan, soal empati dan kasih sayang pada orang lain. Banyak orang yang tidak menyediakan ruang bagi orang lain, karena dirinya dipenuhi oleh dirinya sendiri. Ia sekedar perabot yang tak bisa ditempati perabot, atau meletaknya perabot yang tidak pada tempatnya dan justru hidup untuk merebut ruang bagi dirinya sendiri belaka. Manusia-manusia seperti ini banyak sekali jumlahnya. Manusia yang hanya ingat pada kebutuhannya sendiri. Dalam psikologi itu disebut egoisme, dalam politik itu namanya ototerianisme. Sementara manusia ruang adalah manusia yang mempunyai integritas tinggi, yang sadar demokrasi dan distribusi sosial, yang paham mewujudkan kekhalifahan bersama manusia dan makhluk-makhluk lain. Empati, cinta kasih, dan demokrasi tidak terbatas pada pemenuhan psikis manusia, namun juga semua makhluk. Tanaman berhak untuk tumbuh, ayam berhak untuk berkembang biak agar ia memperoleh kemuliaan takala disembelih dan dimakan oleh manusia. Kalau seseorang menjadi pemimpin ia ta sekedar mempin masyarakat, tapi juga memimpin masyarakat makhluk yang lebih luas. Seperti nabi Sulaiman, Beliau memimpin hak-hak binatang, batu kerikil, padi dan hutan. Disitulah letak kesalahan ideologi pembangunan modern yang merusak alam, bahkan merusak manusia. Adapun manusia perabot yang hanya mementingkan kebutuhan sendiri atau paling jauh kebutuhan keluarganya, dan bahkan sampai menyelingkuhi keluarganya. Ia hanya berpikir dan berperilaku bagaimana semua unsur disekitarnya dimanfaatkan untuk kepentingan dirinya, bahkan juga dia merasa merasa perlu menghiasi dirinya supaya terlihat alim padahal dia adalah iblis yang berusaha mengelabui manusia lainnya demi nafsunya sendir. Kalau ia bersekolah, ia hanya memperhatikan keuntungan pribadi pada masa datang. Kalau ia sarjana yang ia pikirkan bukanlah kontribusi sosial yang ikhlas dan tulus atau “mengabdi pada bangsa dan negara” seperti yang ia biasa bohongkan. Kalau ia menjadi pemimpin, ia tidak menghidupi fungsinya dalam kerangka kepemimpinan sosial , tetapi memasukkan kepentingan filosofi dan kehendak kekuasaan dimana rakyat, fasilitas dan negara hanya di exploitasi untuk tujuan hidup pribadi dan nafsunya. Beruntunglah kita mempunyai peluang kecil untuk hidup di rumah ini dengan cinta kasih sosial, tidak terikat partai atau LSM namun bisa saling menjadi ruang satu sama lain…

Mendadak keras sekali terdengar suara adzan. Arya dan Tony pun segera pulang..

About these ads