asmirandah_by_deddy_ddr-d4g3itgSeandainya ada kontes dongeng, Asmirandah dijamin akan masuk final. Bahkan tak mustahil akan jadi juara. tapi sayang sekali, tradisi mendonggeng sekarang sudah hampir punah. sudah jarang orang sempat atau merasa perlu mendonggengi anak-anaknya sebelum tidur. sudah jarang berlangsung kehidupan di mushola dimana anak kecil tidur berjejer bsambil didonggengi salah seorang senior mereka. juga kalau anak-anak berkumpul entah di gardu, cangkruk atau dimana pun, mereka tak punya lagi kebiasaan donggeng-mendonggengi. yang menjadi topik mereka saat ini mungkin bintang film, tebakan judi, atau rasan-rasan saja

Jadi malang nasib Asmirandah, profesinya menjadi pendonggeng ulung menjadi mampet

Meskipun demikian, setiap kali anak-anak muda berkumpul dirumah kontrakannya, selalu dia mencuri-curi kesempatan untuk melontarkan donggeng-donggeng. dari joko kendil, kinjeng dom, kasan kusen, sampai dongeng-donggeng mancanegara, anekdot filsafat atau politik dan lain sebagainya

Bahkan menjelang peringata Maulid Nabi Muhammad SAW, yang sedang diselenggaran ini, diam-diam Asmirandah mempersiapkan donggeng-donggeng kecil tentang segi manusiawi dan pribadi Rasulullah yang amat di cintai Allah dan banyak manusia itu. misalnya berapa panjang rambut nabi Muhammad, berapa cincin yang melingkar di jari Beliau, akiknya apa, bagaimana cara memakaikan cincin itu, garis lurus pada dada dan perut beliau, dan lain-lain.

Tapi malam itu Asmirandah meyeret anak-anak muda kedalam sautu donggeng tentang laut, gunung dan bumi. suatu donggeng yang menarik dan mengharukan, tapi celakanya Asmirandah tak bersedia untuk menyelesaikannya. dia berhenti ditengah jalan dan membiarkan anak-anak muda itu memperdebatkan bagaimana kira-kira akhir donggeng tersebut.

Kata Asmirandah, pada suatu hari gunung-gunung berdoa pada Tuhan, “Ya Allah! perkenankanlah kami meletus, meledak. perkenankanlah kami menumpahkan lahar dan batu-batu panas…

Para malaikat mendengar bunyi doa gunung-gunung itu lalu spontan bertanya, “untuk apa?

untuk menghancurkan manusia!“, jawab gunung-gunung. “untuk meluluh lantahkan umat manusia, supaya mereka memekik kesakitan dan terbakar hancur!

“kenapa?” malaikat bertanya

karena manusia sangat durhaka. mereka sudah terlalu berkhianat pada Tuhannya, mereka munafik, menipu satu sama lain, berperang dan merusak kehidupan!

Asmirandah bertanya pada anak-anak muda itu, “kira-kira apa jawab Allah?”

dan sebelum anak-anak muda itu menjawab, Asmirandah meneruskan dengan melanjutkan kemudian laut juga berdoa, “Wahai Allah, izinkan aku meluapkan airku! supaya seluruh bumi ini kebanjiran! supaya manusia tenggelam dan seluruh miliknya hancur berantakan!

dan ketika malaikat bertanya kenapa berdoa demikian, sang laut cepat menjawab, “karena manusia itu rata-rata adalah tukang dusta! mereka pura-pura menyembah Tuhan, padahal setiap saat mereka tidak menomor satukan Tuhan. mereka merusak alam, mereka rakus dan serakah, mereka hanya tau kepentingan diri mereka sendiri, mereka pencuri-pencuri yang mengaku alim

dan Asmirandah bertanya lagi pada anak-anak muda itu, “apakah kira-kira Allah akan mengijinkan atau mengkabulkan doa laut?

lantas diteruskan bahwa bumi pun akhirnya berdoa, “Ya Azza Wa Jalla! perbolehkan aku membelah-belah, memecah-mecah diriku! perbolehkan aku menciptakan gempa di seluruh permukaanku! supaya kumakan itu manusia yang durjana, supaya kuhisap mereka kedalam kerak panasku, supaya lenyap kekuatan mereka yang selama ini hanya mereka pergunakan untuk menghabiskan rezeki-Mu tidak untuk manfaat, tetapi untuk sesuatu yang membunuh diri mereka sendiri! aku muak pada umat manusia! aku marah! aku bosan! aku tidak dapat bersabar lagi! manusia harus dihajar!

anak-anak muda itu termangu-mangu.

“apa jawab Tuhan atas doa mereka?”, Asmirandah bertanya

“ya apa dong?” teriak anak-anak itu.

tapi Asmirandah sungguh-sungguh tidak bersedia meneruskan donggengnya. sedemikian rupa hingga mau tak mau anak-anak muda itu lantas berdebat satu sama lain.

“Mana mungkin gunung dan laut berdoa?”, kata seseorang anak

“kenapa tidak?” kata yang lain, “didalam AL-Quran banyak disebut betapa pepohonan, binatang, atau gunung-gunung bersembahyang kepada-Nya!”

“Ya!” sahut yang lainnya, “Alam memiliki muamallahnya sendiri dengan Allah!”

“Jadi, kira-kira Tuhan mengabulkan tidak?”

Dulu waktu Allah menciptakan Adam, para malaikat juga memprotes: untuk apa Tuhan menciptakan makhluk manusia yang hanya akan membikin rusak dan hanya akan menumpahkan darah dibumi? tapi Allah menjawab: Engkau tak tau apa-apa! aku yang tau!

“jadi mungkin begitu jawab Allah atas doa gunung-gunung, laut serta bumi itu”

“Mungkin Tuhan menjawab begini”, suara orang lain nyamber yang baru datang dari di kontrakan, “wahai gunung dan laut serta bumi, tenanglah! tingkat kemahklukan kalian lebih rendah daripada manusia…

“Husshh… jawaban model apa itu?”, bentak lainnya.

“Baiklah, malaikat tak Tau dan Allah Yang Maha Tau. Gunung, laut dan bumi tak tau, Allah Yang Maha Tau… tapi apakah manusia tau? apakah manusia mengerti?”

“Mengerti apa? Tau apa?”
“mengerti apa yang harus mereka mengerti?”

anak-anak muda itu berdebat sampai subuh tiba

saya cuma berkata dalam hati, “dasar cewek, suka bikin orang berpikir tapi ga mau tanggung jawab. tapi aku suka caramu