Tahun 2008, saya sudah berjanji ga bakal ikutan politik praktis lagi!!!

Ga ikutan partai, karena sudah jelas semua partai di negeri ini adalah yang paling punya peran penting merusak negara ini. maaf buat PDI-P, PKB, dan Golkar yang sering kirim undangan rapat menyambut pemilu 2014

ga ikutan LSM jenis apa pun, karena malah menjadi simbol berhala yang munafik. nitip bendera, rebutan proyek… mengatasnamakan agama, kemanusiaan dan lingkungan. semua LSM mengatakan tidak berorientasi pada uang, tapi pada kenyataannya semua LSM menodong pemerintahan negeri ini dengan proposal bikinan mereka sendiri, bahkan sampai tidak tau malu meminta sumbangan masyarakat, akhirnya kumpulan dana yang tersisa dipakainya sebagai “uang rokok” atau “uang lelah“.

kebusukan LSM

kebusukan LSM, ketua dan anggotanya

LSM apa bedanya dengan EO (event organizer) yang bekerja mencari uang? hanya saja bedanya LSM mengatasnamakan moral, lingkungan bahwa agama sebagai senjata utamanya (sadar atau pun ga sadar), ini jelas lebih parah. terus tugasnya pemerintah itu apa? kok malah nyewa LSM yang bertopeng moral, lingkungan bahkan agama. buka mata hati lebar-lebar, iblis telah menjelma dalam wujud fisik, dan iblis mana yang rayuannya tak manis? apalagi iblis kalau merayu pada perut-perut manusia yang kelaparan di abad yg miskin moralitas ini, justru malah lebih mudah bagi si iblis melakukan penghasutan. jika menang niat berbuat baik, ya berbuat saja, ga usah “pamrih denga model iblis”. sinergi antara pemerintah dan masyarakat sudah cukup, tak perlu LSM. Tuhan punya jatah sendiri yang ditujukan bagi mereka yang melakukan kebaikan. bahkan dilapangani saya melihat sendiri ada “aktivis” religi/lingkungan/HAM yang sudah beristri dan punya putra masih sempet selingkuh dan ngrayu istri orang lain, jadi menurut kalian “aktivis” model apa ini?

sekali lagi yang dibutuhkan dalam berbuat kebaikan komponen utamanya ada MORAL (baik atheis maupun beragama) dan bukan kepentingan dan nafsu. bekerja dgn orang banyak pun tak butuh organisasi untuk “membodohi” dan sebagai “topeng monyet”, yang dibutuhkan adalah kesadaran bersama demi kebaikan bersama.

negeri ini sudah kacau, beberapa pihak membuat gerakan “moral” yang kemudian didorong menjadi kepentingan politik demi kekuasaan dan fir’aunisasi

orang-orang dalam negara ini pun ikutan kacau. banyak firman Tuhan yg “dicuri” dari semua kita suci agama di bumi ini untuk dipakai sebagai senjata supaya kelihatan seperti orang suci, padahal sebenarnya adalah iblis

jika memang benar adanya ingin perubahan yang lebih baik, maka tak perlu masuk partai atau LSM dan tak perlu orang lain tau kebaikan yang telah dilakukan, dengan maksud menghidari “pamrih model iblis” atau mencari dukungan suara partai untuk kepentingan kekuasaan. kebaikan atau akidah yang telah  dilakukan itu hanya Tuhan yang berhak menilai dan manusia tak punya hak menilai, sesama manusia hanya membutuhkan akhlaq dari akidah itu sendiri

bahkan surat Al Ikhlas sendiri tidak menyebut kata Ikhlas didalamnya

maaf buat yang tersinggung, saya ga mungkin menuliskan ini jika saya tak langsung terjun didalamnya.

About these ads