firman tuhan dalam botolSecara tidak langsung manusia sudah “menuhankan” barang materi. Bagaimana tampil stylish, gimana hidup yg penuh gengsi, model pakaian apa yg perlu dibeli, karena sudah banyak terdapat “firman-firman” dilembar iklan tiap materi yang diperjual belikan. Bahkan sebotol susu anak balita menentukan sehat-tidaknya akal dan fisik manusia.

sekarang ini “tuhan duit” sedang menggarap “potensial tuhan” yang selama ini belum sungguh-sungguh disentuhnya. dunia pers secara teoritis atau jika punya idealisme, bisa memperjuangkan suara “Tuhan” melawan otoritas “tuhan”. tetapi di negara yang demokrasinya masih try out ini muncul 3 macam pers

  • Pertama, yang bersikeras menegoisasikan nilai-nilai. misalnya mana yang demokratis dan mana yang tidak. pers macam ini jagoannya “Insya Allah, cepat mati”.
  • jenis kedua, pers yang tiap hari menjelang deadline menyanyikan lagu “Whatever you say, my lord”
  • dan apapun jenis pers yang ketiga adalah yang mengajari masyarakat bahwa mempertontonkan separuh buah dada dan paha serta tonjolan misterius dipangkalnya itu lebih penting dan lebih berharga dibandingkan pergi ke gereja, ke masjid atau ke kuil

sebabnya sederhana: kalau anda punya televisi, itu infrastuktur kreatif dan produktifnya sama sekali tidak siap. jadi, biarkan saja suguhan impor itu sekenanya. pokoknya “tuhan” kita adalah ideologi pasar. adapun soal pendidikan, kepribadian dan keberbudayaan bangsa, itukan urusan “Tuhan”? bukan urusan “tuhan”.

jadi, saya ucapkan selamat menikmati suguhan tuhan-tuhan semu, yang membuat mimpi-mimpi semu. merekalah guru besar putra-putri anda

#EAN

About these ads