Karena “sang ruang & sang waktu” bukanlah askes atau jamsostek yg bisa memberikan jaminan kesembuhan pada hati yang telah tersakiti. Yang harus dipahami adalah “ruang dan waktu” itu hidup dalam dimensi lain, dalam kehidupan roh yg sifatnya lebih kekal. Bukan secara fisika yang memiliki ruang dan waktu yang terbatas, melainkan metafisika atau inti atom yang hidup dalam nurani manusia itu sendiri, yang dapat menyembuhkan sakitnya hati.
maka dari itu “saya” harus memberanikan diri kembali pada “haq” atau “fitrah” yang telah Tuhan pinjamkan pada “saya”, anugrah paling inti dari Tuhan yang telah saya lalaikan demi produk manusia yang tak pernah sejati.
Dengan penuh rasa malu dan kekotoran jiwa ini, saya harus meminta maaf juga merayu ampunan pada Tuhan karena telah menyakiti diri sendiri yang terlanjur diciptakan sebagai manusia.
Maafkan aku Tuhan telah meremehkan-Mu dengan menyakiti diriku sendiri, Mahakarya-Mu sebagai manusia. Maafkan aku Tuhan yg telah memberhalakan hasil karya manusia yang ternyata sifatnya semu, tidak tulus dan tidak sejati. aku telah musyrik pada-Mu.
Ijinkan aku “bunuh diri” untuk menuju ruang dan waktu yang sejati milik Tuhan, untuk mengobati sakitku yang bertahun-tahun menyiksaku, yang telah membuatku hidup dalam kepalsuan. Aku harus pergi hari kepalsuan ini, kepalsuan yang menyakitiku, menyakiti manusia lain di sekitarku
Sampai jumpa pada dimensi ruang dan waktu yang lain, cinta
Cha, tugasku wes mari. Tak susul yo